Salah satu aspek kodikologis dari sebuah manuskrip yang kurang diperhatikan seorang peneliti adalah aspek watermark yang terdapat di kertas yang dipergunakan untuk menulis. Untuk kasus manuskrip Islam Pesantren, memang tidak semua kertas yang dipergunakan untuk menulis naskah memiliki watermark (cap air), sebab paling tidak terdapat tiga jenis kertas yang dipergunakan untuk menulis. Pertama adalah Kertas Eropa; kedua Kertas Lokal dan yang ketiga adalah Kertas Gedog. Pada kertas jenis pertama saja kita bisa menemukan tanda air yang dimaksud. Sedangkan pada jenis kertas kedua dan ketiga, biasanya cap air tidak bisa kita temukan. Memang pemberian cap air pada proses pembuatan kertas lokal belum menjadi tradisi di kalangan produsen kertas pada abad ke delapan belas hingga abad kedua puluh.
Melihat cap air pada sebuah kertas dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Cap air hanya bisa dilihat dibalik sumber cahaya. Buka lah satu halaman manuskrip yang ditulis di atas kertas Eropa kemudian letakkan membelakangi sumber cahaya seperti matahari maupun lampu listrik, maka akan tampak gambar putih transparan yang dikenal dengan istilah watermark (tanda air).
Tanda air merupakan identitas yang diberikan produsen kertas di Eropa. Tanda ini menjadi petunjuk tentang umur sebuah kertas, dan nama serta negara mana yang menjadi produsen kertas tersebut. Di saat kita tidak memperoleh informasi kesejarah sebuah naskah yang kita anggap sangat penting maka informasi yang diberikan lewat cap air menjadi informasi yang mungkin saja sangat membantu. Cap air bisa dipergunakan untuk membatu merekonstruksi sejarah perdagangan kertas di sebuah wilayah pada kurun waktu tertentu. Tentu saja untuk menyimpulkan hal tersebut kita membutuhkan korpus cap air dalam jumlah yang cukup banyak.
Sebagai bacaan paling tidak terdapat empat bacaan yang bisa dirujuk saat kita merokonstruksi cap air yang terdapat pada kertas yang dipergunakan untuk menulis manuskrip Islam Pesantren. Tentu saja masih banyak buku lainnya yang bisa dirujuk.
1. Henk Voorn, De papiermolens in de provincie Zuid-Holland, alsmede in Zeeland, Utrecht, Noord-Brabant, Groningen, Friesland, Drenthe, Wormerveer : Meijer,, 1973.
2. Henk Voorn, Het papier in voormalig Nederlands Oost-Indië : een historisch-bibliografische studie, Leiden : Papierwereld, 1978.
3. Edward Heawood, Historical review of watermarks, Amsterdam : Swets & Zeitlinger, 1950.
4. Edward Heawoo, Watermarks, mainly of the 17th and 18th centuries, Hilversum : The Paper Publications Society, 1950.
Pengumpulan korpus cap kertas yang terdapat pada kertas yang dipergunakan untuk menulis Manuskrip di masa mendatang akan merupakan sumbangan penting bagi kajian terhadap peradapan pesantren. Pengumpulan ini dapat dimulai dengan cara yang sederhana dari pengajar Filologi maupun Kodikologi Islam untuk mengeksplore bersama mahasiswa cap air yang terdapat dalam manuskrip Islam yang mencadi kajiannya. Sinegi bersama para pengajar di IAIN/UIN di seluruh Indonesia akan menjadi gerakan yang dahsyat bagi kajian di bidang ini di masa mendatang. Akhirna memang harus ada yang memulai. IAIN Sunan Ampel akan memulai langkah kecil semoga dimasa mendatang akan ada yang bersinergi untuk kemajuan kajian peradaban Islam Pesantren.
Surabaya, 30 Agustus 2013
Amiq Ahyad
Menemukan kembali peradaban pesantren yang nyaris hilang, melestarikan dan menyajikan dengan sudut pandang yang "mungkin" berbeda.
Jumat, 30 Agustus 2013
Sabtu, 24 Agustus 2013
The Keranji Collection: Kr.Ar01
Kr.Ar001-12 merupakan koleksi Pondok Pesantren Tarbiyat al-Ṭalaba, Keranji, Lamongan.
Kr.Ar01
Kodeks ini terdiri dari empat buah naskah, ditulis
dalam aksara Arab, bahasa Arab, ditulis dengan khaṭṭ jenis Naskh, ditulis
dengan menggunakan kertas gedog. 30,3x20,7cm, Kodeks ini terdiri dari 384
halaman.
(1)
Hal. 1a-169a; 30,3x20,7cm-18,5x12cm, 19 baris /folio.
Salinan lengkap dari Manhaj al-Qawīm karya
Aḥmad
b. Muḥammad ibn Ḥajar al-Haytamī (1504-1567), sharḥ dari Al-Muqaddima al-Ḥaḍramiyya tulisan ‘Abd Allāh b. ‘Abd
al-Raḥmān Bā Faḍl al-Ḥaḍramī (w. 1367). Naskah ini diberi harakat secara detil
di halaman-halaman pertama, tapi mulai halaman 68b, naskah ini tidak lgi diberi
harakat. Naskah ini mulai ditulis pada malam Jum’at (waktu Maghrib) 7 Ramaḍān 1264 H/7 Agustus 1839 dan
selesai ditulis pada waktu Ḍuḥā, hari Jum’at 2 Rabī‘ al-Awwal 1265/ 27 Januari 1840. sebagaimana tercantum di kolofonnya
(169a). Selain tanggal penulisan naskah ini, kolofon juga memberi informasi
tentang judul naskah ini. Naskah ini dan berasal dari desa Banjar Anyar,
Paciran. Kedua teks dibedakan dengan melakukan rubrikasi. Teks Al-Muqaddima al-Ḥaḍramiyya ditulis
dengan tinta merah sedangkan teks Manhaj
al-Qawīm ditulis dengan tinta hitam.
Teks ini diawali dengan kalimat “.. Al-ḥamd
li Allāh ḥamdan yuwāfī ni‘amihi wa yukāfī mazīdah…, (hal. 3b)” dan diakhiri
dengan “..tamma hādhā al-kitāb al-musammā
bi Manhaj al-Qawīm…, f.169a.”
Catatan pinggir yang ada pada naskah ini, tidak hanya merupakan komentar
atas naskah utama (al-matan) tetapi juga buku yang dijadikan rujukan.
Buku rujukan seringkali diletakkan di akhir komentar. Sebagai contoh, pada
catatan pinggir terdapat penjelasan tentang apa yang seharusnya dilakukan
seorang pengumandang adhan ṣalat Jum’at apabila sang khatib telah selelesai
nenyampaikan khutbah Jum’at. Penjelasan tersebut merujuk pada kitab Nihāyat
al-Muḥtāj (hal. 94b) dan masih banyak contol sejenis te halaman halaman
berikutnya.
Sebagaimana kitab Fiqih lainnya, kitab Al-Muqaddima al-Ḥaḍramiyya diawali dengan
pembahasan tentang Ṭahāra (5b). Sedangkan kitab ini berakhir dengan membahas persoalan ‘Aqīqah (167b).
Sumber: GAL. II, 389(26); MIPES: Kr.Ar02, Cpr.Ar06(1); Supp. Cat.
Batavia, no. 476.
Manhaj
al-Qawīm
Kr.Ar01(1)_f. 169a.
(2)
ff. 169b-171a; 30,3x20,7cm-18,5x12cm, 19 baris/folio.
Salinan dari Fatḥ al-Raḥmān bi Sharḥ Risālat
al-Walī Raslān by Zakariyyā b. Muḥammad al-Anṣārī (d.
926/1520). Kitab ini merupakan sharḥ dari Risālat al-Tawḥīd by Raslān b. Ya‘qūb b. ‘Abd
al-Raḥmān al-Ja‘farī al-Dimasqī (d. c. 695/1296). Bagian pertama dari kitab ini
sepertinya tidak sempat tersalin, tapi bagian dari naskah ini membahas tentang al-shirk al-khafī (shirk tersembunyi). Naskah
ini dibuka dengan “..fa i‘lam anna
kullaka shirk khafī…,f. 169b” dan ditutup dengan “tammat wa Allāh a‘lam hādha al-kitāb
al-musammā bi Fatḥ al-Raḥmān, f. 170b.” Naskah ini diberi harakat secara
jeli dan dipenuhi dengan jenggotan dalam bahasa Jawa (Pegon) dan beberapa
catatan pinggir dalam bahasa Arab. Kitab Fatḥ al-Rahmān adalah salah satu kitab Uṣūl al-Dīn yang cukup
terkenal dan diperkirakan dipelajari dilingkungan pondok pesantren di pulau
Jawa. Paling
tidak terdapat tiga buah naskah yang sama tersimpan di dua tempat: dua salinan
di Keranji dan satu salinan di Langitan.
Sumber: Ali Hasjmy: 155/Th/16/YPAH/2005; Ahlwardt, no. 2427; CMH. No. 726; GAL. I, 452; Handlist, p. 80, 319; Inventory: VI: 5690(8), 5735(25), VIII: 7030(9), 7049(1),
7054(10), 7354(1); MIPES: Lang.Ar21(2), incomplete copy: Kr.Ar13(12); Supp.
Cat. Batavia, 204-207.
Halaman
pertama dari Fatḥ al-Raḥmān
Kr.Ar01(2)_f.
169b.
(3) ff. 171b-182a; 30,3x20,7cm-25x13cm,
27 baris/folio. Salinan dari ‘Umdat
al-Ansāb al-Anbiyā’, anonym, sebuah risalah tentang
sejarah geneologi para nabi. Menurut Voorhoeve, risalah singkat ini merupakan ringkasan dari naskah berbahasa Persi
yang berjudul Rawḍat al-Aḥbāb, al-mu‘raba min kitāb Rawḍat al-Aḥbāb,
karya ‘Aṭā’ Allāh b. Faḍl Allāh b. Aḥmad al-Nasafī (926/1520). Diawali dengan
“… bi ism Allāh al-Raḥmān al-Raḥīm ‘alā
mā an‘ama wa ‘allama min al-bayān…, f. 171b,” dan diakhiri dengan kalimat “tammat al-risāla al-musammāt bi ‘Umdat
al-Ansāb al-Anbiyā’…,(179b.)” di awali dengan sejarah singkat Nabi Adam dan
diakhiri dengan geneologi nabi Muhammad. Naskah ini selesai disalin pada
tanggal 17 Shawwal tahun Bā’ yang
bertepatan dengan tahun 1280 H/26 Maret 1864 M. Naskah ini tidak memiliki
harakat dengan sedikit catatan yang ada di pinggir halaman juga sedikit
jenggotan.
Sumber: Handlist, p. 386; Inventory IX: 8399(7);
Supp. Cat. Batavia, no. 527.
Halaman
akhir dari ‘Umdat al-Ansāb
Kr.Ar01(3)_f.
179b.
(4)
ff.
182b-192b. 30,3x20,7cm-18,5x13cm, 19 baris/folio. Rislah singat di bidang fiqih
khusus tentang Arkān al-Nikāḥ (Rukun Pernikahan), tidak diketahui siapa
yang menyusun risalah ini. Sebagian dari naskah ini diberi harakat, dan
memiliki catatan di pinggir halaman, Nasakh ini menjelaskan rukun perkawinan
yang terdiri dari lima hal: pertama, ṣīgha
atau janji pernikahan; kedua, wali; ketiga dan keempat kedua mempelai perempuan
dan pria; kelima adalah dua orang saksi (182b). Risalah singkat ini diakhiri
dengan problem menikahi perempuan yang hamil karena zina yang diperbolehkan
untuk dilakukannya (188a). Naskah ini dibuka dengan kalimat “al-nikāḥ
khamsat arkān…(182b,)” dan ditutup dengan “thumma ‘āda Allāh fīhimā fawran qarḍa‘atāni…,(188a.)” Sumber: Ahlwardt, no. 4681; GAL. II, 628; Handlist, p. 23; Inventory. II: 1255(2),
VI: 7520(6), VIII: 7170(1).
Salinan Arkān al-Nikāḥ
Kr.Ar01(4)_f. 188a.
Surabaya, 25 Agustus 2013
Amiq Ahyad
Senin, 19 Agustus 2013
Katalog Manuskrip Islam Pesantren (3): Metodologi.
Sebelum saya memulai
untuk memaparkan Katalog Manuskrip Islam Pesantren, saya akan paparkan presedur
yang telah saya lakukan dalam menyusun katalog ini. Prosedur tersebut merupakan
proses belajar yang saya lakukan sewaktu memperoleh kesempatan belajar di
Universitas Leiden Belanda, selama lima tahun. Bimbingan yang saya peroleh dari
Prof. Witkam selama menjadi mahasiswanya menjadi pengalaman akademis yang
membekas dan sulit terhapus.
Untuk menyusun sebuah
katalog yang terdiri dari ratusan teks (judul) seseorang akan mengadapi pada
sebuah problem konsistensi penulisan, seperti konsistensi penulisan nama
penulis, penyalin, judul naskah. Tentu saja untuk menghindari kompleksitas persoalan
konsistensi, seseorang bisa mengabaikan pilihan untuk mengabaikan tuntutan konsistensi
dalam penulisan. Tetapi yang terjadi adalah ketidak-nyamanan pembaca dalam
membaca katalog yang akan kita terbitkan.
Sebuah koleksi seringkali memilik beberapa teks yang memiliki judul,
pengarang, penyalin yang sama. Untuk kasus seperti inilah konsistensi penulisan
amat diperlukan. Kerumitan konsistensi penulisan ini dapat dicarikan solusi dengan
membuat sebuah master file. Master file ini kita buat dalam sebuah dokumen
tersendiri yang berisi informasi standart tentang teks yang akan kita jelaskan.
Sebagai contoh: Katalog MIPES memiliki beberapa teks dengan judul Al-‘Awāmil karya Al-Jurjānī yang merupakan slah
satu kitab favorit untuk pengajaran di bidang ilmu Nahw di lingkungan pondok
pesantren sekitar abad ke 18-20.Ketidak konsistenan kita dalam menulisan data
kodikologis maupun data filologis mungkin saja terjadi bila kita memiliki
naskah Al-‘Awāmil dalam jumlah yang lebih dari sepuluh buah. Master file
yang akan kita buat akan memudahkan untuk seseorang untuk tetap konsisten dalam
memberikan data dari naskah yang akan kita paparkan. Data yang ada dalam master
file tersebut kemudian dapat kita salin di tempat yang kita inginkan.
Inkonsistesi kedua yang seringkali terjadi di
katalog yang telah diterbitkan adalah dalam hal sistem alih tulisan
(transliterasi). Kita bisa memilih salah satu sistem transliterasi yang tersedia
yang kita inginkan. Tidak ada sistem translitersi yang lebih baik dari sistem
lainnya. Sistem transliterasi merupakan konvensi yang ditentukan oleh sebuah
lembaga ilmiah, atau wilayah secara arbiter. Menurut saya, sistem translitersi
yang baik adalah bila kita menerapkan secara konsisten dalam penulisan kita dan
sistem tersebut lazim dipergunakan minimal di percetakan yang akan menerbitkan
katalog kita. Sistem transliterasi ini diperlukan sebab Manuskrip yang akan
kita sajikan adalah beraksara Arab, sedangkan pembaca kita mungkin saja tidak
terlalu akrab dengan aksara Arab, sehingga sistem transliterasi menjadi sangat
membantu bila tulisan kita berorientasi pada pembaca. Lembaga kerja sama
Indonesia-Belanda untuk kajian Islam (INIS) pernah menerbitkan sebuah buku
khusus tentang berbagai sistem transliterasi yang ada dan dipergunakan di
berbagai lembaga ilmiah di dunia. Kita bisa memilih salah satu dari sistem
tersebut dan menerapkannya secara konsisten dalam katalog yang akan kita
terbitkan.
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa slah
satu problem penyusunan sebuah katalog adalah memberikan data filologis.
Sebaiknya penyusun katalog meminimalkan interpretasinya dalam memberikan data
filologis. Tapi justru dari sinilah problematika penyusunan sebuah katalog
bermula. Pada banyak kasus, naskah yang kita temukan tidak memiliki informasi
yang memadai untuk kita dalam memberikan data filologis yang rinci. Hal ini
seringkali penyalin tidak sempat mencantumkan judul naskah yang disalin, atau
hanya memberikan judul sesuai dengan nama yang lazim dikenal oleh masyarakat
setempat dimana naskah tersebut disalin. Kitab Umm al-Barāhīn karya Yūsuf Al-Sanūsī, umpamanya, di kalangan santri
Jawa pada abad ke 18-20 seringkali disebut al-Durra. Selain itu seringakali naskah yang kita temukan tidak dalam keadaan
lengkap. Ada yang hilang bagian awalnya, ada yang hilang bagian akhirnya atau
bahkan yang tersisa hanya bagian tengahnya. Untuk itu identifikasi kalimat
pertama yang ada, biasanya setelah ungkapan doksologi (kalimat taḥmīd
dan pujian kepada Allah dan ṣalawat kepada kanjeng nabi Muhammad) tidak
jarang menjadi petunjuk penting untuk memberikan data filologis yang kita
inginkan.
Pada bagian sebelumnya saya juga telah
menyebutkan beberapa rujukan yang bisa membantu kita untuk memberikan data
filologis. Kesemuanya adalah sebagian dari sekian banyak literatur yang bisa
dipertimbangkan untuk dirujuk saat akan menyusun katalog koleksi manuskrip
beraksara Arab. Tentu saja masih banyak katalog manuskrip beraksara Arab yang
bisa dijadikan rujukan. Dengan membandingkan informasi yang kita miliki dengan
informasi sejenis di beberapa literatur tersebut di atas kita akan menghindari
dari memberikan data filologis imajiner (panthom information) dari
naskah yang hendak kita susun. Sedapat mungkin kita meminimalkan tingkat
interpretasi kita terhadap sebuah naskah dan membiarkan naskah tersebut berbicara
dengan bahasanya sendiri.
Salah satu cara konvensional yang juga layak
untuk dipertimbangkan adalah dengan mencatat data dengan menggunakan kartu
katalog. Kartu yang memili dua sisi dapat dipergunakan sebagai berikut. Sisi
depan bisa dipergunakan untuk mencatat data filologis dan kodikologis yang
diberikan sebuah naskah naskah, sedangkan sisi lainnya dapat dipergunakan untuk
mencatat sumber informasi berasal. Selanjutnya kartu katalog tersebut bisa
diurutkan berdasarkan urutan abjad dari judul teks yang telah dimiliki.
Prosedur kerja seperti ini tampaknya sedikit
ruwet, tapi bila hendak membuat katalog dari sebuah koleksi naskah yang
berjumlah ratusan, maka kita tidak punya pilihan lain kecuali mempergunakan cara
tersebut. Jika tidak, maka keruwetan pekerjaan akan menunggu di tengah
pekerjaan berikutnya.
Singkatan
Dalam menyusun Katalog, saya kelompokkan MIPES
berdasarkan lokasi penyimpanan atau koleksi tersebut berasal Keranji (Kr), Coper (Cpr), Tegalsari (Ts), Langitan (Lang)
dan Senori (Snr).
MIPES dikelompokkan dari aksara yang
dipergunakan. Secara Umum terdapat tidak
aksara yang dipergunakan untuk menulis MIPES; pertama, aksara Arab (Ar),
apabila sebuah masuskrip ditulis maupun disalin dalam aksara Hijaiyah dan
bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Arab; aksara Pegon (Pgn), apabila aksara yang
dipergunakan adalah aksara Hijaiyah sedangkan bahasa yang dipergunakan adalah
bahasa Jawa; ketika adalah aksara Jawa (Jw).
Selanjutnya sebuah teks akan diberikan nomer urut
registrasi dan urutan teks bila dala sebuah codex terdiri dari lebih satu
naskah. Ada beberapa cara dilakukan penyusun katalog dalam
memberikan urutan nomer registrasi. Ada yang memberikan nomer urut berdasarkan
ukuran sebuah naskah. Dimulai dari naskah berukuran besar hingga naskah yang
berukuran kecil. Ada juga yang memulai dari urutan keberadaan sebuah naskah
pasa sebuah tempat penyimpanan (repository), dimilai yang paling awal dimiliki hingga yang paling akhir. Sebagian
juga ada yang memberi nomer urut secara acak berdasarkan pada urutan pencatatan.
Yang pertama dicatat saat penyusuhan katalog, itulah yang memperoleh urutan
pertama kemudian diteruskan ke urutan berikutnya. Katalog MIPES memakai cara
ketiga. Sedangkan urutas sebuah teks (judul akan ditulis berdasarkan angka urut
dan diletakkan di dalam kurung. Pemakaian angka dan bukan huruf latin untuk
menghindari keterbatan huruf latin, bila jumlah naskah yang terdapat dalam sebuah
codex tebih banyak ketimbang jumlah huruf latin. Jadi Bila dalam Katalog MIPES
terdapat nomer registrasi Lang.Ar05(2) maka itu artinya bahwa naskah tersebut
berasal dari dan kini disimpan di Langitan, ditulis dalam aksara Hijaiyah,
berbahasa Arab, dicatat urutan ke lima dan berada pada urutan kedua dari
sekumpulan naskah yang terdapat pada codex nomer
Lang.Ar05.
Akhirnya Katalog Manuskrip Islam Pesantren akan
dimulai dari Koleksi MIPES yang berasal dari Kabupaten Lamongan (Keranji), kemudian
kabupaten Ponorogo (Coper dan Tegalsari, dan terakhir Kabupaten Tuban (Langitan
dan Senori).
Surabaya, 20 Agustus 2013
Amiq Ahyad
Minggu, 18 Agustus 2013
Katalog Manuskrip Islam Pesantren (2): Data Kodikologis dan Filologis serta Buku Rujukan
Sebelum membeberkan informasi tentang MIPES, sebagai pendahuluan akan
disampaikan beberapa informasi yang akan diberikan dalam katalog ini. Paling
tidak ada tiga jenis karya akademis yang bisa menjembatani antara peneliti
dengan Naskah Klasik pada umumnya, dan tentu saja dengan MIPES pada khususnya: Handlist,
Inventory dan Catalogue.. Perbedaan antar ketiga jenis karya akademik
tersebut hanya pada tingkat kompleksitas informasi yang disedikan penulisnya
tentang manuskrip yang sedang didiskripsikan. Salah satu contoh Handlist
yang mendiskripsikan tentang manuskrip beraksara Arab adalah karya P. Voorhoeve
yang berjudul Handlist of Arabic Manuscripts in the Library of the
University of Leiden and Other Collections in the Netherlands, atau karya
Carl Brockelmann yang berjudul Geschichte der Arabischen Literartur yang
seringkali disingkat dengan GAL, atau karya Fuat Sezgin yang berjudul Geschichte
der Arabischen Schriftums yang seringkali disingkat GAS. Sedangkan contoh karya akademis yang masuk dalam
kategori Inventory adalah karya J.J. Witkam yang berjudul Inventory
of the Oriental Manuscripts of the Library of the University of Leiden.
Adapun karya yang dapat dijadikan contoh dari kategori Catalogue adalah karya
Ph. S. van Ronkel yang berjudul Catalogues der Maleische Handschriften in
het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wateschappen.
Tentu saja masih banyak lagi contoh dari ketiga jenis karya akademis tersebut.
Meskipun ketiga jenis karya akademis tersebut berbeda ada tingkat kompleksitas
informasi yang dibeberkan, tetapi ketiganya memiliki tujuan yang sama yaitu
menjadi jembatan yang nantinya akan memudahkan para peneliti bila ingin mengakses
manuskrip yang akan dikaji. Dengan membaca salah satu dari ketiga jenis karya
akademis tersebut maka seorang peneliti akan memperoleh gambaran singkat
tentang manuskrip yang akan diteliti.
Secara umum informasi yang
tersedia dalam ketiga jenis karya tesebut dapat dibagi menjadi dua kategori:
data kodikologis dan data filologis. Data pertama lebih menekankan aspek fisik dan
peradaban , sedangkan data kedua lebih menekankan pada aspek isi dan
kesusasteraan sebuah manuskrip. Selanjutnya saya akan menjelaskan satu persatu
kedua jenis yang disediakan oleh ketiga jenis karya tersebut dan tentu saja
juga akan saya beberkan pada terbitan katalog MIPES.
Data Kodikologis dan Filologis sebuah Manuskrip
Diantara data kodikologis yang akan diberikan pada katalog MIPES dapat
dikelompokkan kedalam tiga kelompok besar; ukuran fisik, proses pembuatan serta
sejarah manuskrip. Data seperti, panjang, lebar serta ketebalan fisik manuskrip
termasuk di dalam kategori pertama. Selain itu ukuran margin (seperti margin
atas, bawah, samping kiri dan samping) juga termasuk di dalam kategori pertama.
Pada kelompok kedua terdapat jenis kertas, huruf dan tulisan yang
dipergunakan, jumlah baris pada setiap halaman, catchword (metode yang
dipergunakan untuk mengurutkan halaman), warna tinta serta illuminasi yang
dipergunakan dalam proses penyalinan atau penulisan sebuah manuskrip. Sedangkan
kelompok ketiga meliputi kapan manuskrip disalin (seringkali tanggal akhir
penulisan), nama penyalin, penulis dan pemilik serta tempat manuskrip disalin.
Sedangkan data filologis yang akan diberikan adalah judul teks, ringkasan
isinya serta, kalimat pertama dan terakhir, serta interaksi yang terjadi antara
pembaca naskah sebelumnya dengan naskah yang dimiliki. Interaksi yang
dimaksudkan dalam bentuk vokalisasi (harakat), interlinear meaning atau
yang dikenal dalam tradisi pesantren dengan istilah jenggotan (bila berada di
bawah naskah utama) atau jambulan (bila terletak di atas naskah utama), dan
catatan pinggir (marginal notes) atau di kalangan santri di Jawa Tengah
disebut godegan.
Dalam memberikan data filologis sebuah naskah, seringkali kita menemui
kesulitan. Salah satunya adalah, pada banyak naskah kita tidak menemukan judul
dan nama penulis, bahkan tidak jarang naskah yang kita temui tidak dalam
kondisi yang lengkap sehingga sebuah naskah diberi judul berdasarkan kalimat
pertama yang ditemukan. Untuk kasus ini, kita bisa membaca karya akademis sejenis
(handlist, inventory maupun catalogue) untuk memperoleh petunjuk dalam
pemberian data filologis dari manuskrip yang kita temukan, dengan membandingkan
data filologis naskah kita dengan naskah sejenis. Dalam memberikan data
filologis sedapat mungkin kita menghindari interpretasi kita terhadap sebuah
naskah. Let the text speak for itself. Tentu saja semakin beragam karya
akademis yang kita jadikan rujukan,maka semakin detil data filologis yang
bisakita berikan bagi sebuah naskah yang kita temukan. Membaca karya sejenis
juga akan menghindari aggapan yang teralu dini bahwa naskah yang kita temukan
merukan codecus uniqus atau naskah tunggal yang tidak ditemukan di
belahan dunia manapun, hanya karena kita tidak mampu memberikan data filologis
yang mencukupi.
Pada bagian berikutnya akan saya cantumkan beberapa rujukan yang telah saya
pergunakan dalam menyusun Katalog Manuskrip Pesantren.
Buku Rujukan.
1. Katalog Naskah Ali Hasjmy, Aceh,
2007. Untuk terbitan ini, pada bagian berikunya akan saya singkat dengan Ali Hasjmy.
2. Verzeichniss der Arabischen Handscriften der Könighlichen Bibliothek zu
Berlin. Berlin: A. W. Schade’s Buchdrukkerei, 1887-1899.
Untuk terbitan ini pada bagian berikutnya akan saya singkat hanya dengan Ahlwardt.
3. L. W. C. van den Berg, “Het Mohammedaansche
Godsdienstonderwijs op Java en Madoera en Gebruikte Arabische Boeken,” in TBG, XXXI (1887), pp. 519-555. Untuk terbitan ini
selanjutnya hanya disebut van den Berg.
4. Ph. S. van Ronkel, Catalogues
der Maleische Handschriften in Het Museum van het Bataviaasch Genootschap van
Kunsten en Wetenschappen. Batavia: Albrecht & Co, 1909. Untuk terbitan ini selanjutnya hanya disebut CMH.
5. Handlist of Arabic Manuscripts in the Library of the University of
Leiden and Other Collections in the Netherlands, second enlarged
edition, compiled by Voorhoeve. The Hague/ Boston/ London: Leiden University
Press, 1980. Untuk terbitan ini
selanjutnya hanya disebut Handlist
6. Carl Brockelmann, Geschichte
der Arabischen Litteratur. Leiden: E.J. Brill, 1937-1949. Untuk terbitan ini
selanjutnya hanya disebut GAL.
7. Geschichte der Arabischen Litteratur,
Supplement. Untuk terbitan ini selanjutnya
hanya disebut GAL.S.
8. J.J. Witkam, Inventory of The
Oriental Manuscripts of the Library of the University of Leiden. Leiden: Ter Lugt Press, 2007, volumes 1-7, 12-15,
20-25. Untuk
terbitan ini selanjutnya hanya disebut Inventory.
9. Amiq, MIPES Indonesia, Koleksi Manuskrip Islam
Pesantren di Tiga Kota dan Reproduksi Digital, Laporan Penelitian tidak diterbitkan,
Surabaya: LPAM Surabaya, 2006-2007. Untuk terbitan ini
selanjutnya hanya disebut MIPES.
10. Fuat Sezgin, Geschichte des Arabischen Schrifttums, Frankfurt
am Main: Institut für Geschichte der Arabisch-Islamischen Wissenschaften an der
Johann Wolfgang Goethe Universität, 1895. Untuk terbitan ini selanjutnya hanya disebut GAS.
11. Katalog Naskah-Naskah Puri
Pakualaman, 2005. Untuk terbitan ini
selanjutnya hanya disebut Paku Alaman.
12. Ph. S. van Ronkel, Supplement
to the Catalogue of the Arabic Manuscripts Preserved in the Museum of Batavia
Society of Arts and Science. Batavia: Albrecht & Co,
1913. Untuk terbitan ini selanjutnya hanya disebut Supp. Cat. Batavia.
13. Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh
Besar, 2010. Untuk terbitan ini selanjutnya hanya disebut Tanoh Abee.
14. Soebardi, “Santri-religious
elements as reflected in the Book Tjentini” dalam BKI, 127 (1971), no. 3, Leiden, hal. 331-349. Untuk terbitan ini selanjutnya hanya
disebut Tjentini.
Kita patut bersyukur
bahwa sebagian buku yang saya pergunakan untuk menyusun Katalog Manuskrip Islam
Pesantren tersedia dalam versi elektronik (e-book) dengan ekstensi pdf. Edisi elektronik buku yang saya jarikan rujukan
bisa diakses di website milik Prof. Jan. Just Witkam dengan alamat www.islamicmanuscripts.info.
Surabaya, 19 Agustus
2013
Amiq Ahyad
Langganan:
Postingan (Atom)




