Sabtu, 17 Agustus 2013

Katalog Manuskrip Islam Pesantren

Pendahuluan
Setelah sekian lama tertunda, akhirnya koleksi Manuskrip Islam Pesantren di Jawa Timur harus diterbitkan. Pengertian diterbitkan disini tentu saja tidak harus dalam bentuk buku, untuk sementara baru berupa postingan di dua media social yang saya akrabi, Facebook dan blog yang saya miliki yaitu Manuskrip Islam Pesantren. Paling tidak saya memiliki tiga tujuan publikasi ini: Pertama, sebagai ucapan terima kasih saya kepada pemilik koleksi Manuskrip Islam Pesantren yang telah bermurah hati mengizinkan saya untuk mengakses warisan Intelektual yang hingga saat ini masih mereka rawat dengan baik; kedua, sebagai pertanggung jawaban akademis saya selaku peminat studi naskah Islam, terutama Manuskrip Islam Pesantren; ketiga sebagai jembatan bagi para peminat studi Manuskrip Islam yang ingin mengkaji warisan intelektual dunia pesantren.

Tugas seorang kodikolog dan Filolog, profesi yang sedang saya tekuni saat ini adalah menghadirkan khazanah lama kepada dunia luar, agar khazanah intelektual lama bisa diketahui oleh generasi setelahnya. Dengan demikian, sebuah katalog merupakan kerja kolaboratif antara pemilik naskah yang membuka akses dan seorang kodikolog dan filolog yang membangun jembatan. Tidak ada yang lebih dominant diantara keduanya. Tanpa akses yang diberikan pemilik naskah, kerja seorang kodikolog dan filolog hanya akan menhadirkan sebuah pepesan kosong. Sedangkan tanpa kerja seorang kodikolog dan filolog, maka warisan intelektual yang dimikili pemilik koleksi hanyalah akan menjadi tumpukan buku antic yang tidak memiliki konteks budaya dan sejarah.

Akses terhadap Manuskrip yang berumur lebih dari dua ratus tahun memang memiliki dua konsekwensi yang saling bertentangan. Konsekwensi pertama, berkaitan dengan kondisi fisik manuskrip yang rapuh. Semakin sering dibuka, maka warisan lama akan semakin cepat rusak, sebab seringkali manuskrip yang tersisa memiliki bahan yang rapuh para umur setua itu. Maka bila dibuka sama saja dengan merusaknya. Konsekwensi kedua, apa bila kita melarang orang lain, seperti peneliti untuk mengakses manuskrip hanya karena alasan di atas maka sama dengan mengubur peradaban lama untuk diapresiasi dan sama dengan menghilangkan warisan lama yang pernah ada (kitmān al-‘ilm) yang amat dicela oleh kanjeng Nabi Muhammad.

Salah satu solusi yang bisa dilakukan terhadap duua konsekwesi yang saling bertentangan tersebut adalah dengan melestarikan teks (isi manuskrip) dengan melakukan digitalisasi. Ada tiga cara lain sebenarnya untuk melestarikan isi manuskrip. Yang pertama dengan menulis ulang isi manuskrip yang ada. Cara ini penuh resiko, sebab selain kita akan kehilangan historisitas naskah, setiap penyalinan selalu sja terjadi kesalahan dan perbedaan antara naskah salinan dengan naskah yang disalin. Oleh sebab itu saya tidak merekomendasikan cara pertama. Kedua, dengan memfoto kopi naskah ini. Saya tidak akan pernah merekomendasikan cara ini untuk mereproduksi isi sebuah naskah. Radiasi panas yang ditimbulkan oleh mesin foto kopi akan mempercepat kerusakan fisik sebuah naskah.  Yang ketiga adalah melakukan penyelamatan isi naskah dengan mereproduksinya dalam bentuk microfilm. Pembuatan micro film, dengan kualitas yang bagus, untuk sekarang ini masih merupakan kegiatan yang membutuhkan dana besar (highly cost activity) sehinga hanya lembaga besar yang mampu melakukan pekerjaan ini. Selain itu, membaca keluaran (output) kegiatan ini membutuhkan alat microfilm reader, yang tidak portable, sehingga microfilm tidak bisa dibaca disemua tempat. Sebagai sebuah kegiatan penyelamatan isi naskah, saya tidak akan merekomendasikan sebagai aktifitas personal, kecuali bila kegiatan ini dilakukan oleh lembaga besar seperti perpustakaan universitas,  daerah maupun nasional.

Terdapat cara lain untuk menyelamatkan isi naskah dengan biaya terjangkau dan hasilnya juga bisa dibaca oleh semua orang dan di semua tempat. Cara yang saya maksudkan adalah dengan melakukan digitalisasi manuskrip dengan mempergunakan kamera digital. Output dari aktifitas ini disebut digital faksimail dengan berbagai ekstensi file digital yang diinginkan seperti TIFF, JPG atau RAW atau ekstensi yang lainnya. Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM Surabaya) sudah memulai mendigitalkan beberapa koleksi MIES dan terus akan melakukannya dimasa mendatang. Hasil yang pernah dilakukan oleh LPAM Surabaya ini lah yang akan saya terbitkan dan bentuk seri catatan di kedua jenis media sosial yang saya kelola.

Terma
Sebelum menghadirkan Katalog Manuskrip Islam Pesantren (MIPES) saya perlu menjelaskan terma yang akan sering saya pergunakan dan kemudian saya singkat dengan MIPES. Berdasarkan isi sebuah naskah kuno bisa dikategorikan kedalam Manuskrip Keagaman, di samping kategori yang lain. Apabila sebuah naskah berisi ajaran keagamaan Islam, maka manuskrip tersebut disebut sebagai manuskrip Islam. Manuskrip Islam Pesantren (MIPES) merupakan subkategori masuskrip keagamaan Islam.

Saya berpendapat bahwa sebuah Manuskrip disebut sebagai Manuskrip Islam Pesantren bila: pertama apabila isi naskah tersebut adalah ajaran keagamaan Islam; kedua, naskah tersebut ditulis atau disalin oleh orang Islam; ketiga naskah tersebut ditulis atau disalin untuk mempelajari agama Islam. Artinya fungsi sosial MIPES jelas yaitu sebagai materi ajar pada sebuah lembaga pendidikan. Kalau berdasarkan fungsi sebuah naskah, manuskrip bisa dibagi menjadi dua: library book (naskah yang ditulis untuk dikoleksi saja); dan school book (naskah yang disalin untuk dibaca dan sebagai materi ajar), maka MIPES adalah salah satu contoh yang jelas dari school book. Keempat, koleksi manuskrip tersebut kini tersimpan di lingkungan pesantren. Apabila keempat ciri tersebut tidak melekat pada sebuah manuskrip, maka sebuah naskah hanya akan disebut sebagai manuskrip keagamaan Islam, atau hanya manuskrip keagamaan saja.

Asal Koleksi  
MIPES yang akan saya publikasikan di kedua media sosial secara serial berasal beberapa lembaga pendidikan di tiga kabupaten di propinsi Jawa Timur. Di kabupaten Lamongan, MIPES masih tersimpan di Pondok Pesantren Tarbiyat al-Ṭalaba Keranji, beberapa koleksi pribadi disekitar desa Keranji. Di kabupaten Ponorogo terdapat dua lembaga pendidikan yang masih menyimpan MIPES: Pesantren Tegalsari, Jetis Ponorogi dan Pesantren Al-Ishaqi di desa Coper, Melarak Ponorogo. Sedangkan di Kabupaten Tuban, MIPES masih bisaa dijumpai di dua lembaga utama, Pesantren Langitan, Widang Tuban dan Pesantren Dar al-Salam Senori Tuban.

LPAM Surabaya telah berhasil membuat keseluruhan koleksi di lembaga pendidikan tersebut dalam bentuk digital faksimail. Keseluruhan digital faksimail telah tesimpan di masing masing lembaga tersebut dimana koleksi MIPES secara fisik berasal.Terdapat lebih dari empat ratus judul (teks) yang telah saya digitalkan dan kini disimpan dengan aman di sekretariat LPAM Surabaya yang akan saya publikasikan secara berkala, satu persatu mulai minggu depan.

Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Surabaya, 18 Agustus 2013

Amiq Ahyad

Kamis, 13 Juni 2013

Sejarah Perkembangan Aksara (Epigrafi dan Paleografi)

Epigrafi adalah salah satu disiplin ilmu arkeologi yang mempelajari benda masa lampau yang bertulis. Benda tersebut salah satunya adalah prasasti. Epigrafi erat kaitannya dengan Paleografi yang mempelajari secara khusus perkembangan bentuk bentuk aksara kuno. Mereka yang tertarik dengan hal hal yang berhubungan dengan aksara bisa membaca karya bagus yang berjudul Early History of the Alphabet. An Introduction to West Semitic Epigraphy and Palaeography. Buku ini ditulis oleh J. Naveh (2005).

Kawan kawan yang tertarik membaca karya J. Naveh, Early History of the Alphabet. An Introduction to West Semitic Epigraphy and Palaeography (2005) bisa mengunduhnya di http://www.4shared.com/office/2fSDkDmC/J_Naveh_Early_History_of_the_A.html.

Rabu, 12 Juni 2013

Varian Penulisan Aksara Pegon

Saya tidak pernah berhenti meyakini bahwa apa yang dihasilkan sebuah masyarakat merupakan produk peradaban mereka yang unik. Peradaban mereka akan dipengaruh konteks waktu, kondisi sosial kemasyarakatan dimana sebuah peradaban tersebut dihasilkan. Oleh sebab itu, masing masing masyarakat akan memproduksi  sebuah peradaban yang unik dan merupakan ciri mereka. Keunikan inilah yang pada akhirnya membentuk peradaban yang beragam. Tentu saja, tidak ada satupun peradaban ummat manusia yang berbeda seratus persen berbeda dari peradaban lainnya. Yang percaya konsep superioritas dan inferioritas budaya mungkian akan mempertanyakan siapa yang mempengaruhi dan siapa yang mempengaruhi. Bisa dipastikan, setiap masyarakat dengan keunggulan budaya yang diyakini, akan menganggap bahwa budaya mereka yang dominan dan mempengaruhi, sedangkan budaya masyarakat lainnya adalah resesif yang dipengaruhi. Tetapi ada perspektif yang lebih setara adalah munculnya beberapa kesamaan budaya menjadi bukti sosial bahwa sebuah masyarakat, pada suatu masa pernah melakukan mobilitas horizontal. Mobilitas horizontal itulah yang menjadi penyebab interaksi budaya dan saling memberi dan menerima (cultural exchange). Proses pertukaran peradaban itu yang nampak ketika kita menemukan adanya kemiripan budaya.

Kemiripan bukan berarti sama. Tetap saja kita bisa menemukan keunikan yang menjadi faktor yang membedakan. Dan itu adalah wajar. Rekonstruksi atas keunikan-keunikan itu kemudian bisa dipergunakan untuk membentuk sebuah identitas sosial dan kebudayaan masyarakat. Kegagalan untuk merekonstuksi keunikan itulah yang pada akhirnya hanya memunculkan identitas bayangan (imagined identity) yang tidak memiliki basis argumen yang kokoh.

Sebagai salah satu ekspresi kebudayaan, cara penulisan aksara pegon ternyata juga begitu. Masing masing memiliki cara menulis aksara pegon yang berbeda. Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya menemukan perbedaannya. Kasus penulisan kata "puniko". Pada naskah yang tersimpan di desa Keranji, Lamongan, kata tersebut ditulis dengan tiga aksara Arab: Fa, Nun dan Kaf. Sedangkan naskah yang tersimpan di Tegalsari kata tersebut ditulis dengan lima aksara Arab: Fa, Waw, Nun, Kaf dan Alif. Perbedaan penulisan dalam dua naskah yang berasal dari dua daerah berbeda tentu saja bisa dianggap bahwa yang satu benar dan yang lain salah. Tapi pertanyaan yang muncul adalah, siapa yang membuat standar penulisan aksara pegon? Kalaulah ada standarisasi penulisan pegon, atas apa proses standarisasi dilakukan?

Perbedaan cara penulisan adalah satu dari sekian ekspresi berperadaban sebuah masyarakan pada periode tertentu. Membaca manuskrip secara lebih teliti tidak mustahil kita akan menemukan keunikan keunikan lainya. Juga tidak mustahil kita akan menemukan perbedaan cara menterjemahkan. Merekonstruksi apa yang pernah ditulis pendahulu kita di masa lalu bisa dipastikan memunculkan wajah peradaban para pendahulu kita. Mengumpulkan serpihan-serpihan tersebut akan menjadi peradaban kita yang selama ini kita abaikan. Itulah identitas sosial masyarakat Islam Jawa yang bisa kita setarakan dengan identitas sosial lain yang dimiliki masyarakat dunia.

Surabaya, 16 Juni 2013
Amiq Ahyad

Kamis, 06 Juni 2013

تراديسي روجوكان دالام مانوسكريڤ إسلام ڤسانترن


دالام مانوسكريڤ إسلام ڤسانترن ترداڤات بانياك إينفورماسي يانڠ مناريك. يتو كالااو كيتا ماو مليهات مانوسكريڤ دنڬان سديكيت ليبيه جيلي, سيلاين ناسكاه أوتاما, مانوسكريڤ إسلام ڤسانترن جوڬا مميليكي چاتاتان چاتاتان يانڬ سنڬااجا ديتوليس ديڤينڬڬيه هالامان ياانڬ ماسيه كوسونڬ. سانتري ڤوندوك منيبوتنيا ڬودڬان (godegan). سالاه ساتو ينفورماسي يانڬ ترداڤات دالام ڬودڬان ادالاه بوكو بوكو يانڠ ديجاديكان روجوكان دالام منجلاسكان إسي ناسكاه أوتاما.

ميسكيڤون مميليك تراديسي يانڬ ساما دنڬان ڤنوليسان كاريا إلميياه يانڠ ادا دي زامان مودرن, يانڬ كيتا ساكسيكان دالام مانوسكريڤ ڤسانترن بربدا سڤرتي يانڬ كيتا ساكسيكان دي ڤنربيتان بوكو مودرن. ڤادا مانوسكريڤ بوكو يانڠ ديروجوك بياسانيا هانيا ديتوليس جودول يانڠ ومومنيا ديكنال أوموم اتاو چوكوڤ ديسبوت ناما ڤنڬارانڠ نۑا. سڤرتي يانڬ نامڤاك ڤادا ڬامبار نومر دوا ڤمباچا ناسكاه بروساها ممبري ڤنجلاسان ڤادا ناسكاه وتاما دنڬان مروجوك ڤادا كيتاب يانڬ ديتوليس أوله با جوري.
بوكو يانڬ ديجاديكان روجوكان بياسانيا ديلتاككان دي اكهير كوتيبان دان ديلتاككان ديانتارا دوا هوروف "ھ"

صدانڬكان ڤادا بوكو يانڬ سوداه ترچتاك تراديسي روجوكان ديتوليس دنڬان لبيه لنڠكاڤ لاڬي. ادا ڬامبار ڤرتاما نامڤاك باهوا كيياي فقيه ماسكومامبانڠي دالام منوليس ريسالاه يانڠ برجودول "الماندوماه الدالييا" منڠوتيب بايت بايت دالام كتاب إلمو هيسام دان ببراڤا بوكو 
لايننيا.

Gambar 1.
ini adalah bagian pertama dari karya Kyai Faqih Maskumambang yang berjudul Al-Manzuma al-Daliya. manuskripnya tersimpan di Pondok Langitan dengan kode Lang.Ar005. Terima kasih pada pak Masyudi yang meminjami saya kitab tersebut





Gambar 2.
Cpr. Ar.003
Kitab Ghayat al-Ikhtisar wa al-Tahdhib
Naskah tersimpan di desa Coper Ponorogo sedangkan digital faksimailnya merupakan koleksi LPAM Surabaya.

Amiq Ahyad

Kamis, 23 Mei 2013

Pegon: Aksara masyarakat Indonesia yang hilang


Sebelum mengenal aksara Latin, masyarakat Indonesia terlebih dahulu mengenal aksara Arab (Al-Aruf al-Hijāiyya). Penyebabnya adalah sebelum kedatangan bangsa Portugis, Inggris dan Belanda, orang Arab (sebagian orang mengatakan orang India) telah lama datang ke kepulauan Nusantara untuk menyebarkan agama Islam.

Tentu saja kita tidak bisa mengatakan bahwa huruf Hijaiyah merupakan huruf asli Indonesia. Masyarakat Indonesia jauh sebelum kedatangan Islam di Nusantara telah mengenal aksara lokal. Masyarakat Jawa telah mengenal aksara Jawa. Aksara ini memiliki empat fase perkembangan, aksara Jawa-Hindu, aksara Jawa Islam, Aksara Jawa Kolonial dan aksara Jawa Modern. Meskipun masyarakat Jawa sebagian telah memeluk agama Islam, aksara Jawa ternyata masih dipergunakan untuk menulis manuskrip, terutama di wilayah Solo atau di Yogyakarta.

Masyarakat  Bugis-Makassar juga mengenal aksara Lontara sejak abad ke-17. Aksara ini juga masih dipergunakan untuk menulis manuskrip Islam meskipun mereka telah mengenal aksara Arab. Di salah satu  naskah Al-Qur’an yang dikoleksi oleh Universitas Leiden, aksara Lonta dipergunakan untuk menterjemahkan Al-Qur’an.

Konversi budaya memang tidak semudah konversi agama. Oleh sebab itu, mengarabkan masyarakat Jawa jauh lebih susah daripada mengislamkan mereka. Sinkretisme adalah fakta teologis proses konversi budaya yang belum tuntas dalam Islamisasi masyarakat Jawa. Huruf Pegon atau Pego juga bisa diibaratkan seperti itu. Sebagian masyarakat masih sulit mengucapkan fā karena sudah terbiasa mengucapkan p. Mereka juga sangat sulit mengucapkan ‘ain, karena terbiasa mengucapkan ngo, oleh sebab itu mereka menyebutnya ngain. Kesulitan sebagian masyarakat Jawa untuk mengucapkan aksara asing tentu saja tidak bisa dianggap sebagai minimnya kadar keIslaman seseorang tetapi hanya salah satu bukti konversi peradaban dalam hal ini adalah berbahasa. Jenis aksara Arab lain yang diadaptasi masyarakat Islam Indonesia adalah aksara Jawi. Kalau Pegon dipergunakan untuk menulis bahasa non Jawa, maka aksara Jawi dipergunakan untuk menulis bahasa non Jawa.

Ketika masyarakat Jawa dikenalkan bahwa kitab sucinya ditulis dengan aksara Arab, maka mau tidak mau mereka harus mengerti bagaimana cara membaca (plus menulis) dengan benar. Tetapi orang Jawa  tetaplah orang Jawa, maka mereka mengadaptasi aksara asing tersebut untuk menuliskan kebiasaan. Aksara Arab yang telah diadaptas untuk menuliskan bahasa Jawa di sebut Pego atau Pegon. Di dalam sejarah perkembangan aksara Jawa, inilah yang dikenal dengan aksara Jawa Islam. Di Manuskrip Islam Pesantren di Jawa, aksara Pegon seringkali dipergunakan untuk menulis jenggotan yang memberi terjemahan bahasa Jawa atas naskah berbahasa Arab yang dianggap sulit. Aksara Pegon juga dipergunakan untuk menulis naskah Tasawuf yang ditulis oleh ulama Jawa. Oleh sebab itu kita perlu mempertanyakan difinisi ”buta huruf”, sebab sebagian masyarakat muslim di Indonesia yang tidak membaca aksara Latin yang dianggap sebagai aksara Kafir, ternyata sangat mahir menulis aksara pegon.

Dalam manuskrip Islam tidak terdapat standar penulisan aksara pegon. Masing masing wilayah dan periode tertentu memiliki cara yang berbeda untu menulis pegon. Bahkan varian penulisan aksara pegon berbeda atar penyalin satu dengan penyalin yang lain. Satu sisi ini tentu menyulitkan bagi mereka yang ingin menyeragamkan tulisan pegon. Tapi di sisi lain, ini adalah sudut menarik sebagai objek penelitian perkembangan penulisan aksara pegon.

Meskipun demikian bukan berarti upaya sistematisasi penulisan aksara pegon tidak pernah dilakukan. Upaya fontasi pegon secara kreatif dilakukan Alif Juman seorang santri pondok pesantren Mlangi Yogyakarta. Menariknya upaya yang dilakukan Alif menjadikan penulisan pegon menjadi sangat mudah. Sebab kita tidak perlu membutuhkan keyboard Arab. Cukup menulis dengan keyboard latin, dengan sistem fontassi pegon, output tulisan di komputer menjadi aksara pegon. Alif Juman dapat dihubungi di alifjuman@yahoo.com

Selanjutnya bagian tulisan ini akan saya tulis dengan sistem fontasi yang dibuat Alif Juman.  Fiontasi yang dia susun adalah Arab Pegon Pesantren.

چارا ينستالاسي فونتاسي اراب ڤڬون ڤسانترن
١.انستال فونت اراب ڤڬون يانڬ ادا ڤادا فولدر فونت دي چونترول.
٢.جالانكان فاسيليتاس ست اوف اونتوك منجالانكان سيستم فونتاسي اراف ڤڬون
٣.ڤيليهلاه فونت اراب ڤڬون ڤسانترن بسار ٢٢ اتاو لبيه
٤. ڤاستيكان كيبوارد يانڬ ديورڬوناكن ادالاه ارابيچ اومان
٥. لالو چيبلاه اوتوك منوليس "ڤاچيتان" ماكا برهاسيللاه ينستالاسي سيستم فونتاسي اراب ڤڬون.
Bagi yang tertarik dengan system fontasi aksara pegon bisa mengunduhnya di http://www.4shared.com/rar/zGLvGaps/pegon.html dan mencoba untuk menjelajahi masa lampau.


Rabu, 22 Mei 2013

Manuskrip Islam dan Kesinambungan Tradisi Pengajaran Islam di Pesantren

Tradisi Ijaza yang masih dipraktikkan oleh beberapa Pondok Pesantren di Jawa Timur menyebabkan apa yang diajarkan di Pesantren mirip dengan apa yang dipelajari pimpinan pesantren saat ia belajar dulu. asebagian besar Manuskrip Islam Pesantren yang ditemukan di beberapa pondok pesantren.

Keterangan itu masih bisa saksikan di catatan pinggir di beberapa manuskrip Islam Pesantren. Pada kesempatan ini saya mau menampilkan dua buah contoh. Contoh pertama adalah sebuah naskah dengan nomer registrasi Lang.Ar002. Pada bagian akhir terdapat catatan bahwa naskah tersebut pernah dipelajari Kyai Soleh pada saat belajar di Yaman. Buku tersebut berjudul Tasrif al-Izzi. Meskipun Tasrf al-Izzi saat ni tidak lagi dipergunakan dalaam kurikulum pengajaran Ilmu Sarf dan digantikan di sebagian pesantren dengan Al-Amthila al-Tasrifiyya, tapi kitab ini pernah digunakan di Pondok Pesantren Langitan dalam pengajaran Ilmu Sarf.


Lang.Ar002_f. 70a
Al-Tasrif al-Izzi
Pada catatan pinggirnya disebutkan "sahib hadha al-kitab al-musamma bi al-Salih hina talaba al-ilma fi masjid Yaman"

Naskah aslinya disimpan di Pondok Pesantren Langitan sedang digital faksimailnya merupukan koleksi Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat, LPAM Surabaya.








Contoh kedua ada pada naskah yang juga dimilik Kyai Saleh Langitan. Naskah dengan Nomer registrasi Lang.Ar011 merupakan salinan dari kitab Bidaya wa Nihaya karya Abu Hamid al-Ghazali. Dalam catatan pinggir di permulaan halaman disebutkan  bahwa catatan pinggir yang ada merupakan taqrir dari Kyai Mas Abdul Qahhar saat belajar Tasawuf. Kyai Abdul Qahhar merupakan guru Kyai Saleh saat belajar di Pondok Pesantren Sidoresmo Surabaya. Kitab tersebut kemudian menjadi salah satu kitab yang dibaca di Pondok Langitan hingga sekarang.


Lang.Ar011_f. 1b
Salinan Kitab Bidaya wa Nihaya karya Abu Hamid al-Gazali.
Naskah aslinya sekarang tersimpan di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban, sedangkan digital faksimailnya merupakan koleksi Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat, LPAM Surabaya

Selasa, 21 Mei 2013

Ijaza pada Munuskrip Islam Pesantren

Ijaza menjadi faktor penting dalam tradisi keilmuan Islam. Ijaza merupakan pemberian otoritas seorang guru kepada muridnya. Dan selanjutnya sang murid akan menjadi pewaris keilmuan gurunya dan diberi otoritas untuk mengajar ilmu tersebut kepada orang lain. Atau dengan ungkapan lain, seorang murid yang telah memperoleh ijaza dari gurunya akan menjadi sanad (mata rantai) penyebaran ilmu pengetahuan.

Pada abad pertengah Ijaza menjadi bukti kedekatan personal seorang murid dengan gurunya. Seorang murid akan memperoleh ijazah bila ia dianggap memiliki kualifikasi kualitas akademis dan spiritual tertentu di mata gurunya.

Witkam, menyebutkan ada tiga jenis ijaza yang dikenal dalam Sejarah Tradisi Pengajaran Ilmu-Ilmu Keagamaan Islam, Ijaza Qira'a, Ijaza Sima'a dan Ijaza Ta'lim. Informasi lebih lengkap ketiga jenis ijaza dapat dibaca di artikel yang ditulisnya dengan judul The Human Element Between Text and Reader, The Ijaza in Arabic Manuscripts. Artikel tersebut bisa diunduh secara gratis di http://www.4shared.com/office/KjJCkgJS/Witkam-1995-Human_element.html atau langsung ke www.islamicmanuscript.info . Sayangnya pola pemberian ijaza seperti yang dipraktikkan pada tradisi pembelajaran Islam abad pertengahan sudah sulit kita temukan. Ijaza kemudian bergeser kepada simbol ikatan seseorang dengan lembaga pendidikan dimana seseorang menuntut ilmu.

Di lingkungan pesantren kita menemukan sebuah manuskrip yang menjelaskan secara jelas (sarih) tentang pemberian ijaza dalam pengajaran sebuah kitab Jawharat al-Tawhid. Manuskrip tersebut adalah karya Kyai Abu Fadal Senori Tuban (w. 1984). Kyai Fadal memperoleh ijaza pengajaran kitab tersebut, kemudian memberi penjelasan dalam karya monumentalnya Al-Durr al-Farid Fi Sharh Jawharat al-Tawhid, 628 folio (halaman)

Snr.Ar01_f. 2a
Baris ke tiga dari bawah menunjukkan sebagian sanad pengajaran Kitab Jawharat al-Tawhid yang berasal dari Kyai Hashim Ash'ari kemudian Kyai Mahfud Termas dan selanjutnya.
Naskah kitab ini menjadi koleksi Kyai Abd. Jalil Senori sedangkan digital faksimailnya merupakan koleksi Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat, LPAM Surabaya.