Jumat, 30 Agustus 2013

Watermark (Tanda Air) dan Manuskrip Islam

Salah satu aspek kodikologis dari sebuah manuskrip yang kurang diperhatikan seorang peneliti adalah aspek watermark yang terdapat di kertas yang dipergunakan untuk menulis. Untuk kasus manuskrip Islam Pesantren, memang tidak semua kertas yang dipergunakan untuk menulis naskah memiliki watermark (cap  air), sebab paling tidak terdapat tiga jenis kertas yang dipergunakan untuk menulis. Pertama adalah Kertas Eropa; kedua Kertas Lokal dan yang ketiga adalah Kertas Gedog. Pada kertas  jenis pertama saja kita bisa menemukan tanda air yang dimaksud. Sedangkan pada jenis kertas kedua dan ketiga, biasanya cap air tidak bisa kita temukan. Memang pemberian cap air pada proses pembuatan kertas lokal belum menjadi tradisi di kalangan produsen kertas pada abad ke delapan belas hingga abad kedua puluh.

Melihat cap air pada sebuah kertas dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Cap air hanya bisa dilihat dibalik sumber cahaya. Buka lah satu halaman manuskrip yang ditulis di atas kertas Eropa kemudian letakkan membelakangi sumber cahaya seperti matahari maupun lampu listrik, maka akan tampak gambar putih transparan yang dikenal dengan istilah watermark (tanda air).

Tanda air merupakan identitas yang diberikan produsen kertas di Eropa. Tanda ini menjadi petunjuk tentang umur sebuah kertas, dan nama serta negara mana yang menjadi produsen kertas tersebut. Di saat kita tidak memperoleh informasi kesejarah sebuah naskah yang kita anggap sangat penting maka informasi yang diberikan lewat cap air menjadi informasi yang mungkin saja sangat membantu. Cap air bisa dipergunakan untuk membatu merekonstruksi sejarah perdagangan kertas di sebuah wilayah pada kurun waktu tertentu. Tentu saja untuk menyimpulkan hal tersebut kita membutuhkan korpus cap air dalam jumlah yang cukup banyak.


































Sebagai bacaan paling tidak terdapat empat bacaan yang bisa dirujuk saat kita merokonstruksi cap air yang terdapat pada kertas yang dipergunakan untuk menulis manuskrip Islam Pesantren. Tentu saja masih banyak buku lainnya yang bisa dirujuk.

1. Henk Voorn, De papiermolens in de provincie Zuid-Holland, alsmede in Zeeland, Utrecht, Noord-Brabant, Groningen, Friesland, DrentheWormerveer : Meijer,, 1973.
2. Henk Voorn, Het papier in voormalig Nederlands Oost-IndiĆ« : een historisch-bibliografische studie, Leiden : Papierwereld, 1978.
3. Edward Heawood, Historical review of watermarks, Amsterdam : Swets & Zeitlinger, 1950.
4. Edward Heawoo, Watermarks, mainly of the 17th and 18th centuries, Hilversum : The Paper Publications Society, 1950.

Pengumpulan korpus cap kertas yang terdapat pada kertas yang dipergunakan untuk menulis Manuskrip di masa mendatang akan merupakan sumbangan penting bagi kajian terhadap peradapan pesantren. Pengumpulan ini dapat dimulai dengan cara yang sederhana dari pengajar Filologi maupun Kodikologi Islam untuk mengeksplore bersama mahasiswa cap air yang terdapat dalam manuskrip Islam yang mencadi kajiannya. Sinegi bersama para pengajar di IAIN/UIN di seluruh Indonesia akan menjadi gerakan yang dahsyat bagi kajian di bidang ini di masa mendatang. Akhirna memang harus ada yang memulai. IAIN Sunan Ampel akan memulai langkah kecil semoga dimasa mendatang akan ada yang bersinergi untuk kemajuan kajian peradaban Islam Pesantren.




































Surabaya, 30 Agustus 2013
Amiq Ahyad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar