Kamis, 23 Mei 2013

Pegon: Aksara masyarakat Indonesia yang hilang


Sebelum mengenal aksara Latin, masyarakat Indonesia terlebih dahulu mengenal aksara Arab (Al-Aruf al-Hijāiyya). Penyebabnya adalah sebelum kedatangan bangsa Portugis, Inggris dan Belanda, orang Arab (sebagian orang mengatakan orang India) telah lama datang ke kepulauan Nusantara untuk menyebarkan agama Islam.

Tentu saja kita tidak bisa mengatakan bahwa huruf Hijaiyah merupakan huruf asli Indonesia. Masyarakat Indonesia jauh sebelum kedatangan Islam di Nusantara telah mengenal aksara lokal. Masyarakat Jawa telah mengenal aksara Jawa. Aksara ini memiliki empat fase perkembangan, aksara Jawa-Hindu, aksara Jawa Islam, Aksara Jawa Kolonial dan aksara Jawa Modern. Meskipun masyarakat Jawa sebagian telah memeluk agama Islam, aksara Jawa ternyata masih dipergunakan untuk menulis manuskrip, terutama di wilayah Solo atau di Yogyakarta.

Masyarakat  Bugis-Makassar juga mengenal aksara Lontara sejak abad ke-17. Aksara ini juga masih dipergunakan untuk menulis manuskrip Islam meskipun mereka telah mengenal aksara Arab. Di salah satu  naskah Al-Qur’an yang dikoleksi oleh Universitas Leiden, aksara Lonta dipergunakan untuk menterjemahkan Al-Qur’an.

Konversi budaya memang tidak semudah konversi agama. Oleh sebab itu, mengarabkan masyarakat Jawa jauh lebih susah daripada mengislamkan mereka. Sinkretisme adalah fakta teologis proses konversi budaya yang belum tuntas dalam Islamisasi masyarakat Jawa. Huruf Pegon atau Pego juga bisa diibaratkan seperti itu. Sebagian masyarakat masih sulit mengucapkan fā karena sudah terbiasa mengucapkan p. Mereka juga sangat sulit mengucapkan ‘ain, karena terbiasa mengucapkan ngo, oleh sebab itu mereka menyebutnya ngain. Kesulitan sebagian masyarakat Jawa untuk mengucapkan aksara asing tentu saja tidak bisa dianggap sebagai minimnya kadar keIslaman seseorang tetapi hanya salah satu bukti konversi peradaban dalam hal ini adalah berbahasa. Jenis aksara Arab lain yang diadaptasi masyarakat Islam Indonesia adalah aksara Jawi. Kalau Pegon dipergunakan untuk menulis bahasa non Jawa, maka aksara Jawi dipergunakan untuk menulis bahasa non Jawa.

Ketika masyarakat Jawa dikenalkan bahwa kitab sucinya ditulis dengan aksara Arab, maka mau tidak mau mereka harus mengerti bagaimana cara membaca (plus menulis) dengan benar. Tetapi orang Jawa  tetaplah orang Jawa, maka mereka mengadaptasi aksara asing tersebut untuk menuliskan kebiasaan. Aksara Arab yang telah diadaptas untuk menuliskan bahasa Jawa di sebut Pego atau Pegon. Di dalam sejarah perkembangan aksara Jawa, inilah yang dikenal dengan aksara Jawa Islam. Di Manuskrip Islam Pesantren di Jawa, aksara Pegon seringkali dipergunakan untuk menulis jenggotan yang memberi terjemahan bahasa Jawa atas naskah berbahasa Arab yang dianggap sulit. Aksara Pegon juga dipergunakan untuk menulis naskah Tasawuf yang ditulis oleh ulama Jawa. Oleh sebab itu kita perlu mempertanyakan difinisi ”buta huruf”, sebab sebagian masyarakat muslim di Indonesia yang tidak membaca aksara Latin yang dianggap sebagai aksara Kafir, ternyata sangat mahir menulis aksara pegon.

Dalam manuskrip Islam tidak terdapat standar penulisan aksara pegon. Masing masing wilayah dan periode tertentu memiliki cara yang berbeda untu menulis pegon. Bahkan varian penulisan aksara pegon berbeda atar penyalin satu dengan penyalin yang lain. Satu sisi ini tentu menyulitkan bagi mereka yang ingin menyeragamkan tulisan pegon. Tapi di sisi lain, ini adalah sudut menarik sebagai objek penelitian perkembangan penulisan aksara pegon.

Meskipun demikian bukan berarti upaya sistematisasi penulisan aksara pegon tidak pernah dilakukan. Upaya fontasi pegon secara kreatif dilakukan Alif Juman seorang santri pondok pesantren Mlangi Yogyakarta. Menariknya upaya yang dilakukan Alif menjadikan penulisan pegon menjadi sangat mudah. Sebab kita tidak perlu membutuhkan keyboard Arab. Cukup menulis dengan keyboard latin, dengan sistem fontassi pegon, output tulisan di komputer menjadi aksara pegon. Alif Juman dapat dihubungi di alifjuman@yahoo.com

Selanjutnya bagian tulisan ini akan saya tulis dengan sistem fontasi yang dibuat Alif Juman.  Fiontasi yang dia susun adalah Arab Pegon Pesantren.

چارا ينستالاسي فونتاسي اراب ڤڬون ڤسانترن
١.انستال فونت اراب ڤڬون يانڬ ادا ڤادا فولدر فونت دي چونترول.
٢.جالانكان فاسيليتاس ست اوف اونتوك منجالانكان سيستم فونتاسي اراف ڤڬون
٣.ڤيليهلاه فونت اراب ڤڬون ڤسانترن بسار ٢٢ اتاو لبيه
٤. ڤاستيكان كيبوارد يانڬ ديورڬوناكن ادالاه ارابيچ اومان
٥. لالو چيبلاه اوتوك منوليس "ڤاچيتان" ماكا برهاسيللاه ينستالاسي سيستم فونتاسي اراب ڤڬون.
Bagi yang tertarik dengan system fontasi aksara pegon bisa mengunduhnya di http://www.4shared.com/rar/zGLvGaps/pegon.html dan mencoba untuk menjelajahi masa lampau.


1 komentar: